Ratusan Jamaah Ikuti Sholat Idul Adha 1447 H di Masjid Nurul Muhsinin, Beginilah Penjelasan Ustadz Sondra Alhafidz SAg MH
Ustadz Sondra Alhafidz SAg MH saat menyampaikan ceramah sholat Idul Adha, Rabu (27/5/2026)
Laporan : Hestiana Ramadhani
Pekanbaru
RATUSAN jamaah berduyun-duyun datang ke Masjid Nurul Muhsinin yang berada di Jalan Ikan Mas, Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai dalam rangka mengikuti sholat Idul Adha 1447 H Rabu (25/5/2026). Sebelum melaksanakan sholat , terdengar suara takbir mengema dan mengangungkan nama Allah Subhanahu Waatala dari jamaah yang hadir. Terlihat wajah para jemaah yang datang ke masjid sangat antusias menyambut perayaan hari raya Idul Adha 1447 H ini.Pada pelaksanaan sholat Idul Adha 1447 H ini yang bertugas sebagai imam ustadz Syarhan Almawarid dan sebagai khatib ustadz Sondra Alhafidz SAg MH.
Sebelum melaksanakan sholat Idul Adha 1447 H, terlebih dahulu disampaikan oleh ustadz Syarhan Almawarid terkait kiat dan tata cara pelaksanaan sholat Idul Adha. Pantauan di lapangan, terlihat jamaah yang hadir mengikuti sholat Hari Raya Idul Adha 1444 H penuh sesak. Dimana saf-saf jamaah atau bapak-bapak yang ada di dalam masjid penuh, Begitu juga di saf ibu-ibu yang ada di belakang juga terlihat penuh dan padat. Pelaksanaan sholat Hari Raya Idul Adha 1447 H dilakukan sekitar pukul 07. 20 WIB dan selesai lebih kurang pukul 07. 30 WIB.

Dalam ceramahnya ustadz Sondra Alhafidz menerangkan bahwa
momentum Hari Idul Adha, selain identik dengan ibadah haji, identik pula dengan dua bahasan penting, yaitu tapak tilas keteladanan pengorbanan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar, serta keberhasilan Nabi Ibrahim mendidik keluarganya. Nabi Ibrahim dikenal karena keyakinannya yang sangat kuat kepada Allah Subhanahu Waatala., " Dengan momen Idul Adha ini, kita harus meningkatkan kualitas pengorbanan dan keikhlasan. Selain itu, kita harus bisa meneladani Kehidupan dari keluarga Nabi Ibrahim. Karena Nabi Ibrahim ini, memiliki ketataan dan kepatuhan yang sangat luar biasa kepada Allah Subhanahu Waatala, " jelas ustadz Sondra di hadapan jamaah yang hadir.
Diterangkan Sondra, dalam kitab Bidayah wa al-Nihayah karangan Imaduddin Abul Fida Ismail bin Umar bin Katsir, ImamIbnu Katsir. Nabi Ibrahim dikenal dengan nama Ibrahim bin Tarikh bin Nuhur bin Sarugh bin Raghu bin Faligh bin ‘Abir bin Syalih bin Arfakhsyadz bin Sam bin Nuh alaihissalam. Nabi Ibrahim dilahirkan di kota Babilonia. Ini merupakan bagian selatan dari Mesopotamia atau Irak saat ini Babilonia pada masa itu adalah sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh Raja Namrud. selama 400 tahun, dan masa pemerintahannya yang panjang ini membuatnya menjadi sosok pemimpin yang sombong, zalim. Di tempat kelahiran Nabi Ibrahim AS, masyarakat menyembah pahala. Bahkan, ayahnya Azar, sendiri adalah pembuat pahala. Meski begitu, Nabi Ibrahim AS tidak ingin untuk menyembahnya.

Sebagaimana Surat Al-An’am Ayat 74
۞ وَإِذْ قَالَ إِبْرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ ءَازَرَ أَتَتَّخِذُ أَصْنَامًا ءَالِهَةً ۖ إِنِّىٓ أَرَىٰكَ وَقَوْمَكَ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Mengutip Mujahid dan Qatadah, al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya menegaskan bahwa ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim adalah ajaran murni yang mengesakan Allah dan berpaling darinya adalah tindakan kebodohan Umat Islam selalu meneladani Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail. Baginda Rasulullah Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam sendiri adalah keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ismail.
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail selalu disebut oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dalam bacaan tahiyyat akhir. Bacaannya disebut dengan shalawat Ibrahimiyah.
Sementara keturunan Nabi Ibrahim dari jalur Nabi Ishaq terus kepada nabi nabi selanjutnya sempai kepada nabi Musa dan Isa Alahimassalam. Mengutip al-Kilabi, dalam kitabnya Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an. Juz 1, Al-Qurthubi memberikan konteks sejarah dan teologis mengenai penolakan terhadap ajaran Nabi Ibrahim. Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengklaim bahwa mereka adalah kelompok yang mengikuti ajaran Bapaknya para Nabi itu.
Mereka menolak ajaran dan tidak mengakui nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wasallam sebagai nabi. Karena, dari seluruh para nabi, mulai nabi Ishaq, merupakan yang dipilih menjadi nabi dari keturunan bani Israil. Mereka orang orang Yahudi mengklaim kalau Ibrahim adalah Yahudi dan orang Nasrani mengklaim Ibrahim adalah Nasrani. Tapi klaim mereka dibantah Allah Subhanahu Waatala dalam alquran : Surat Ali 'Imran ayat 67.
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُوْدِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“ Tidak lah nabi Ibrahim itu seorang Yahudi, Nasrani, akan tetapi dia lurus,.. (tdak condong kepada istrinya, anaknya tapi dia lurus mengabdi kepada Allah) musliman, dan bukan golongan orang orang musyrik.
Dalam kehidupanya, Nabi Ibrahim menolak menyembah berhala, tapi juga megembara menamah keyakinannya pada kekuasaan Allah Subhanahu Waatala.
Diuji dengan mencari Tuhan dari alam semesta. Peristiwa itu diceritakan Allah dalam Alquran surah Albaqarah 260
وَاِذۡ قَالَ اِبۡرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِىۡ كَيۡفَ تُحۡىِ الۡمَوۡتٰى ؕ قَالَ اَوَلَمۡ تُؤۡمِنۡؕ قَالَ بَلٰى وَلٰـكِنۡ لِّيَطۡمَٮِٕنَّ قَلۡبِىۡؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَةً مِّنَ الطَّيۡرِ فَصُرۡهُنَّ اِلَيۡكَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنۡهُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُهُنَّ يَاۡتِيۡنَكَ سَعۡيًا ؕ وَاعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ حَكِيۡمٌ ٢٦٠
Keyakinan Ibrahim kepada Allah Subhanahu Waatala pun semakin kuat, sehingga Ibrahimpun menginginkan agar umat ketika itu beriman kepada Allah.. Dalam dakwahnya, Ibrahim pun menguji dengan logika keyakinan kaumnya saat itu kepada berhala. Hal itu saat Raja Namrud bersama pengikutnya pergi meninggalkan kota Babilonia.
Ketika negeri dalam keadaan sunyi, nabi Ibrahim diam diam menghancurkan seluruh berhala dengan kapaknya dan mengalungkan kapaknya di leher Berhala yang besar. Peristiwa keberanian dan kejieniusan Nabi Ibrahim itu diabadikan Allah Subhanahu Waatala dalam surah Al Anbiya ayat 62 dan 63
قَالُوۡٓا ءَاَنۡتَ فَعَلۡتَ هٰذَا بِاٰلِهَتِنَا يٰۤاِبۡرٰهِيۡمُؕ ٦٢ قَالَ بَلۡ فَعَلَهٗ ۖ
كَبِيۡرُهُمۡ هٰذَا فَسۡـــَٔلُوۡهُمۡ اِنۡ كَانُوۡا يَنۡطِقُوۡنَ ٦٣
Raja Namrud yang sudah malu dan marah kemudian mermerintahkan pasukannya untuk membakar nabi Ibrahim AS selama 40 hari.
قَالُوۡا حَرِّقُوۡهُ وَانْصُرُوۡۤا اٰلِهَتَكُمۡ اِنۡ كُنۡتُمۡ فٰعِلِيۡنَ
Tapi Allah Subhanahu Waatala menunjukkan kekuasaanya bahwa makhluk tidak dapat mendatangkan mudharan dan manfaat tanpa seizin Allah.
قُلْنَا يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ ۙ
Artinya:: Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin, dan penyelamat bagi Ibrahim!” (QS. Al-Anbiyaa ayat 69)
Istrinya Sarah Diambil Paksa Raja Mesir
Selamat dari pembakaran, Nabi Ibrahim akhirnya menyelematkan diri bersama istrinya, Sarah, beliau singgah di tanah Syam (Palestina/Suriah) ditemani keponakannya Nabi Luth AS yang kemudian Nabi Luth pergi berdakwak ke negeri Sodom.
DI Mesir, Raja Mesir beranama Raja Tutis, sebagian ahli sejarah mengatakan nama lainnya adalah Firaun yang tertarik dengan Sarah. Namun setiap kali ia akan mendekati Sarah, fisiknya menjadi lemah, badanya remuk seolah mendapat kutukan setiap kali ia mendekati Sarah, sehingga oleh Raja Mesir , Ibrahim diberi hadiah budah wanita Hajar. Nabi Ibrahim kembali ke Syam Paletina dan Sarah memberikan Hajar untuk dinikahinya. Ibrahim pun diperintahkan Allah Subhanahu Waatala untuk pergi bersama Hajar dan Ismail anak lelakinya ke lembah tua Makkah.
Diuji Membawa Istri dan Anaknya ke Lembah bernama Bakkah atau Makkah
Ujian keimanan nabi Ibrahim kembali diuji, Allah Subhanahu Waatala untuk hijrah ke Kota Makkah yang jaraknya sekitar 1000 km dari Syam membawa istri dan anaknya Ismail. Sesampainya disana, di daerah gurun pasir yang tidak ada tanda tanda kehidupan, kedua manusia ini ditinggal Ibrahim karena diperintahkan untuk kembali berdakwah di negeri Palestina tempat Istrinya Sarah.
Siti Hajar bersabar ditinggal di wadi/lembah yang tak berpenghuni tanpa bekal mencukupi. Namun mantap bila memang itu perintah Allah, maka siti Hajar mantap berucap "Innallaaha laa yudloyyi'unaa". Peristiwa berlari lari ke bukit safa dan marwa
Meski berat, hati suami dan bapak mana yang tidak merasa sedih, berat harus berpisah dengan istri dan anaknya yang ditunggu kehadirannya selama 86 tahun. Di tengah perjalanan dari atas bukit, nabi Ibrahim berdoa dalm surah Ibrahim ayat 37 :
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
Mengorbankan Anak
Setelah hampir tujuh tahun ditinggal, nabi Ibrhaim diuji kecintaanya kepada Allah Subhanahu Waatala.
Allah Subhanahu Waatala perintahkan nabi Ibrahim menyembelih anaknya Ismail AS ketika berumur 13 tahun. Peristiwa sejarah itu Allah Subhanahu Waatala abadikan dalam Surah Ash-Shoffat ayat 102
Allah Subhanahu Waatala berfirman
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Kisah pengorbanan Ismail salah satu kisah paling signifikan tentang ketauhidan Nabi Ibrahim juga adalah kesediaannya untuk mengorbankan putranya, Ismail AS atas perintah Allah Subhanahu Waatala. Ini adalah ujian terbesar bagi Nabi Ibrahim yang menunjukkan ketaatan totalnya kepada Allah Subhanahu Waatala.
Namun, ketika Nabi Ibrahim hendak menyembelih Ismail, Allah Subhanahu Waatala menggantikannya dengan se ekor domba sebagai tebusan, sebagai bukti penerimaan Allah Subhanahu Waatala atas ketaatan mereka.
(١٠٢) فَلَمَّآ أَسْلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلْجَبِينِ (١٠٣) وَنَٰدَيْنَٰهُ أَن يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ (١٠٤) قَدْ صَدَّقْتَ ٱلرُّءْيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِى ٱلْمُحْسِنِينَ (١٠٥) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلْبَلَٰٓؤُا۟ ٱلْمُبِينُ( ١٠٦) وَفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍۢ (١٠٧).
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). Dan Kami panggillah dia: 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu.' Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (Ash-Shaffat 37:102-107).

Allâhu akbar (3x), walillâhil hamd.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.
Al-Kautsar ayat 3 berikut ini:
فصل لرك وانحر (سورة الكوثر: 3)
Artinya: Dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.
Selain dalam Al-Quran, perintah melaksanakan kurban juga terdapat dalam hadits Nabi Muhammad SAW. Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;
عَنْ َأبِي هُرَيْرَة: َأنَّ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا (رواه احمد وابن ماجه)
Artinya: "Dari Abu Hurairah, "Rasulullah SAW telah bersabda, barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia mendekati (menghampiri) tempat shalat kami," (HR Ahmad dan Ibnu Majah).***

Tulis Komentar